Tampilkan postingan dengan label Ruang Request. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Request. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Secret Admirer Part II


In My Room

Anatomi Tubuh Manusia! Untuk apa? Padahal kan dia kuliah dijurusan yang sama denganku. Apa dia kuliah juga di tempat lain? Ah, siapa pun bisa membaca buku seperti ini, mungkin saja untuk kepentingan lain, atau mungkin ini buku milik temannya.

Sambil berbaring, perlahan-lahan ku buka lembar perlembar tiap halaman, memperhatikan isi dari bukunya, dan coretan-coretan kecil berwarna disetiap pinggiran-pinggiran lembar dan pada bagian-bagian terpenting. Ternyata gadis ini tak pandai juga dalam hal mencatat, tulisannya tidak terbaca, saking jeleknya, aku tertawa dalam hati. Sesuai judulnya, isi dari buku ini kurang lebih membahas tentang anatomi tubuh dari mulai tulang, pernafasan, dan sistem-sistem lainnya. Tunggu! Setiap hari apa dia membawa buku yang berbeda? Waktu itu dia meninggalkan bukunya juga kan, tapi tidak setebal ini, dan sampul bukunya juga tidak berwarna putih, tapi biru. Dia itu, sok pintar, setiap hari membawa buku yang berbeda-beda, apa pula maksudnya dia meninggalkan bukunya, kenapa pula harus aku yang menemukan bukunya, aku yakin orang lain ada yang melihatnya juga, ya mungkin mereka tidak peduli, siapa pula yang mau mengambil buku yang isinya orang bilang membosankan ini, kenapa pula, aku dengan bodohnya mencaritahu sejauh ini, hoaaamzz, benar ya seharusnya ku tinggalkan saja bukunya itu. Ku taruh buku itu dibawah kasur, ada lipatan kertas yang terjatuh, aku pun memeriksa apa isinya. Gambar? Sebuah sketsa paru-paru dengan catatan-catatan kecil, dan sebuah print out hasil ronsen yang ikut terlipat. Milik siapa ini? Apa mungkin gadis itu?

Keesokan hari, dalam sebuah rapat BEM-HIMA

“Ini bukumu” Aku mengembalikan buku miliknya itu, ternyata selama ini dia juga anggota BEM di jurusan kami.
“Waah, syukurlah, terimakasih ya, pantas saja kemarin seperti ada yang kelupaan, hahaha” Ujarnya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Sama-sama, lain kali, hati-hati” Balasku singkat dan kembali merapat ke tempat dudukku.
“Um?”

Rapat yang akan selalu membosankan, adakah sesuatu yang menarik selain hal-hal yang konyol untuk di diskusikan di forum ini. Kadang aku merasa BEM jurusanku ini payah sekali.

“Hoy!”
“Ha?!” Aku terkejut kecil seketika menoleh dan ternyata gadis itu lagi, sial.
“Eh anu, maaf, aku tak bermaksud mebuatmu terkejut kok” Wajahnya terlihat menyesal.
“Apa maumu, bukannya kamu duduk disana ya?” Tanyaku agak kesal dan heran.
“Um, tadinya kupikir sekalian berkenalan, selama ini kita sering bertemu dan berpapasan tapi belum tahu nama masing-masing, aku jadi bingung kalau mau menyapa, hehe” Ujarnya polos.
“Terlalu berbelit-belit ya, bilang saja ingin berkenalan” Jawabku singkat sambil mencoba fokus pada rapat saja.
“Ya, seperti itu lah, hehe, aku Tabitha, namamu siapa?” Ujarnya tersenyum mendekatkan wajahnya padaku, dasar, padahal dia duduk disampingku.
“Berisik! Perhatiin yang rapat tidak sih? Tolong jauhkan juga tatapanmu itu sangat mengerikan” Bisikku agak kesal juga.
“Huhh, aku kan cuma ingin tahu namamu saja, habis aku ngomong tidak diperhatikan sih” Gadis itu cemberut sambil memandang kedepan, bukan memperhatikan ketua yang sedang berbicara, pasti dipikirannya dia menggerutu karena omonganku barusan, haha, dasar.
“Aku Raka, maaf ya, habis nanti dikira ngobrol dan gak merhatiin, malas juga kalau harus ditegur-tegur segala” Ujarku padanya, sambil tersenyum.
“Lagipula kamu juga tidak memperhatikan rapat ini kan, Raka?” Cetusnya sambil asyik bermain dengan ponselnya.
“Sok tahu, ada juga kamu yang tidak memperhatikan” Balasku jutek.
“Orang sepertimu pasti menganggap ini rapat yang membosankan kan, aku sih jujur memang tidak begitu tertarik dengan rapat ini, tapi aku masih bisa menangkap poin-poin dari rapat ini apa, wleee” Gadis itu lagi-lagi mengolok-olokku, menyebalkan.
“Terserah kamu” Balasku singkat.
Rapat selesai, seperti biasa berakhir membosankan, ternyata ketua BEM Rio, berencana untuk mengadakan study tour mahasiswa, dasar kesannya kita seperti anak sekolahan saja. Eh, si Tabitha itu hanya diam saja, dia asyik dengan catatan-catatannya.

“Kamu enggak keluar? Aku duluan ya” Ujarku melangkah keluar ruangan.
“Tidak, iya duluan saja” Jawabnya sambil tetap asyik menulis.

Aku putuskan untuk pulang saja, tapi teman-temanku masih nongkrong saja di lobi kampus, aku sih tadinya ingin ijin pulang saja, ya ampun, aku lupa hari ini ada rapat Organisasi diluar, terpaksa aku ijin untuk pulang duluan. Selama diperjalanan kenapa aku masih sempat-sempatnya memikirkannya ...

Senin, 18 Juni 2012

Perasaan Apa Ini ?



Disaat kita berdua bersama, saling terdiam bersembunyi dibalik perasaannya masing-masing. Dapatkah kau mendengarnya? Teriakkan hati diantara kita? __
Sekali lagi kita hanya terdiam, entah apa yang dipikirkan. Mungkinkah kita membisu dalam bayangan akan kenangan yang dilewati bersama, ataukah kita terbelenggu dengan pilihan-pilihan yang terus berputar ditengah dilema.

Kau tahu? Aku tak mengerti perasaan ini__ Haruskah aku membohongi perasaanku lagi?
Tidakkah ini terlalu berlebihan?__

Waktu semakin melambat, kita masih terdiam.
Ku dengar isak tangis yang tertahan dan airmata yang menetes lembut dari pipimu. Seketika sakit rasanya__ seandainya kau tahu aku sangat benci ketika melihatmu menangis__
Karena aku merasa tak dapat melakukan apapun untukmu.

______


Seiring waktu kembali berjalan, entah bagaimana caranya, kau tersenyum kembali, bukan karena aku menghiburmu, tapi karena aku tahu, karena dirimu adalah___


Written by Bulan Kecil

Sabtu, 16 Juni 2012

Terimakasih, Kau kirimkan aku Malaikat kecil-Mu


Dia gadis yang tumbuh dewasa, yang membuka mataku pada dunia. Tak hanya sekedar dunia, sisi yang sempat aku butakan dalam diriku, kini terlihat jelas olehnya. Ketika rasa sakit ini terkadang datang kembali, semuanya hilang, ketika melihatnya tersenyum, Tuhan, beritahu aku, Apa yang sebenarnya ia lakukan terhadapku? Apa yang Kau simpan dan sampaikan lewat senyum dan keceriaannya itu?

Dia selalu tersenyum, ceria, membagi semua kasih sayangnya untuk semua orang yang berada didekatnya, bahkan mereka yang jauh pun bisa merasakan kehangatannya. Ada sesuatu dalam dirinya yang begitu bersinar, memancarkan cahaya yang mungkin fana. Tapi aku yakin mereka bisa melihat hal yang sama pada dirinya sepertiku. Kehangatan yang kurasakan ketika ia bersama dengan anak-anak yang selalu nyaman berada  dalam pangkuan dan pelukkannya. Kelembutan yang kurasakan ketika ia mengobati anak-anak yang terluka, ya, aku juga pernah dirawat olehnya, waktu itu berjalan rasanya terlalu cepat, atau mungkin aku yang terhanyut oleh kelembutan yang ia berikan dengan merawatku yang ketika itu tak sadarkan diri karena lelah, aku hanya ingat kata-kata yang diucapkan olehnya "Istirahatlah, sesekali biarkan tubuhmu menikmati waktu tenangnya, kalau terus dipaksakan nanti bisa sakit lagi, lekas pulih ya" lalu ia tersenyum, aku hanya bisa tersenyum kaku.

Tuhan, Engkau juga berikan kami ketenangan lewat kehadirannya dalam hidup kami. Ketika semuanya terlihat gelap, ada caya kecil yang datang menyinari kegelapan itu. Ya, ia datang seperti malaikat yang Engkau hadirkan dalam hidupku. Ketika aku terjatuh, ia selalu siap mengulurkan tangannya untuk ku raih. Ketika aku bersedih, ia selalu siap menghiburku dengan semua tawa canda konyolnya. Ketika aku berada dalam titik jenuhku, ia selalu siap datang dan membawaku pergi untuk melihat dunia yang luas dengan segala keindahan yang Engkau ciptakan. Ketika aku berada dalam kemelut masalah yang menjerat, ia selalu siap memberikanku tempat untuk mengungkapkan semua perasaanku dan membuatku ringan dengan semua kata-kata indah yang keluar dari bibir manisnya itu. Dan ketika aku menangis, ia selalu ada mendekapku erat dengan kasih sayangnya. Jika ada orang yang buta, melukainya dengan kata-kata bahkan dengan sentuhan, aku yakin mereka adalah orang-orang yang sakit. Aku selalu berdoa agar ia selalu berada dalam lindungan-Mu.

Tuhan, aku bersyukur dengan segala pelajaran yang Engkau berikan padaku setiap harinya, ketika aku belajar untuk mencoba sesuatu yang belum pernah ku coba, lalu aku terjatuh, dan aku belajar untuk bangkit, lalu aku menyesal, dan aku belajar dari kesalahan-kesalahanku, lalu aku bersyukur atas semua pelajaran yang kau berikan dalam kehidupanku, sampai akhirnya, Engkau berikan aku cinta, dan seorang malaikatMu, gadis yang ku cintai, yang ku rindukan, yang kuceritakan disetiap doa dan curahan hatiku, aku bersyukur, Engkau telah mengijinkanku untuk mengenalnya lebih jauh, Engkau ijinkan aku untuk menjaganya dalam genggaman tanganku, Engkau ijinkan aku melindunginya dalam pelukkanku, bahkan Engkau ijinkan aku untuk mencintainya. Namun, Engkau mengambilnya kembali bersamaMu ketika aku ingin mengikat hidupku bersamanya dengan janji dalam cincin yang tak sempat melingkar indah dijari manisnya.

Dia yang selalu tersenyum dibalik perihnya, ia yang selalu ceria dibalik sakitnya. Aku tak percaya, ketika aku tahu apa yang sebenarnya menimpa dirinya. Sakit itu bahkan tak nampak dalam pandanganku, bahkan aku tak dapat merasakannya. Ia memang pandai menyembunyikan rasa sakitnya itu, aku tidak percaya, ada kekuatan yang begitu hebatnya dapat membutakan seseorang dari rasa sakitnya. Tuhan, ada rasa sesal, ada sebuah penyesalan dalam diriku ini, ketika aku benar-benar tak dapat menjaganya seperti janjiku padaMu. Apa itu sebabnya Engkau tak mengijinkan aku untuk mengikatnya dalam satu pernikahan yang suci, agar aku benar-benar bisa menjaganya, membina keluarga yang sederhana dengan anak-anak yang saleh dan salehah,  dengan RahmatMu.

Aku selalu bersyukur, karena Engkau telah mengijinkanku untuk dekat dengannya, Engkau telah mengijinkan aku membagi cintaMu bersamanya, dan Engkau telah membukakan mataku pada dunia lewat kehadirannya dalam hidupku. Aku yakin semua orang yang pernah mengenalnya, bahkan berada didekatnya akan selalu merasa hangat, walaupun jauh, kehangatan itu selalu ada dalam diri mereka yang pernah melewati hari-hari hidupnya bersamanya. Seperti aku, yang kini menuai rinduku hanya dengan kenangan-kenangan indah, dan penyesalanku atas perasaan cinta yang tidak pernah aku sampaikan padanya ini. Meskipun aku yakin ia tahu, ya, aku disini, selalu mencintaimu ... 
Semoga kita bertemu kembali, disana, disisiNya ...

Kalian tahu rasa cinta itu bisa mengobati?, apapun?. Bahkan sakit yang kurasakan ini, menjadi sesuatu yang indah pada akhirnya dan aku bersyukur karenanya. Semoga dalam setiap detiknya kita selalu bisa memaknai kehidupan yang kita jalani ini. Aku selalu ingat kata-katanya, "Ketika hanya itu yang bisa kamu lakukan untuk orang lain, lakukanlah, selama hal itu baik bagi mereka, dan Tuhan mengijinkannya. Meskipun pada akhirnya kamu terluka, karena segala yang dilakukan dengan tulus hati tak hanya memberikan keindahan bagi mereka, tapi kebanggaan bagi diri sendiri. Bukan seberapa besar atau kecil hal yang kamu lakukan, tapi niat, dan kesungguhan kamu dalam melakukannya" dia selalu berbicara sambil tersenyum, Tuhan, sampaikan salam kasihku padanya.
Salam hangat, dariku.


Written by,
14 Juni 2012, Bulan Kecil.

Jumat, 15 Juni 2012

Secret Admirer: Part I


Awalnya hari-hari selalu berjalan seperti biasa saja, tidak ada yang istimewa, semua terasa sama, bisa dibilang monoton, sekalipun aku bertemu dengan orang-orang yang baru maupun rutinitas baru, rasanya sama saja, entah kenapa semua mulai berubah, sejak pertemuan itu terjadi.

Entah hari apa waktu itu aku tak begitu ingat persisnya, yang pasti aku sedang menunggu jam mata kuliah umum masuk, aku hanya duduk-duduk mengikuti alur yang mengalir di antara tawa canda teman-temanku. Tiba-tiba datang seorang gadis yang kemudian duduk di balkon yang sama denganku, meskipun jaraknya agak jauh, entahlah, sejenak aku memperhatikan dari tadi gadis itu sedang asyik dengan buku bacaannya, hah, sok rajin deh, dalam hatiku berbisik.

Aku rasa dosen ini tidak akan masuk hari ini, tahu begitu aku tidak akan masuk deh tadi. Untuk melepas bosan akhirnya aku ikut bergabung dengan canda tawa teman-temanku walaupun sebenarnya semua terasa biasa saja. Seketika aku menengok ke tempat anak gadis itu tadi duduk, ternyata dia sudah masuk kelas, eh tapi bukunya tertinggal, baru saja aku beranjak dari dudukku menghampiri buku itu, tiba-tiba saja gadis itu keluar ruang kelasnya dan mengambil bukunya kembali. Ketika ia kembali masuk kedalam ruangannya ia sempat berbalik tersenyum dan mengucapkan “terimakasih”. Aku hanya tersenyum kecil, dasar gadis aneh.

Keesokan harinya entah kenapa aku bertemu dengan gadis itu lagi, tadinya aku ingin menenangkan diri disebuah ruangan dikampusku yang biasa ku tempati untuk menenangkan diri dari suasana yang tidak mengenakkan. Ya seperti biasa aku hanya berbaring dan bersandar dibalkon sambil menghisap puntungan rokok. Aku tahu ini tidak baik, sulit ku jelaskan, karena hal ini sedikit membuatku tenang. Tiba-tiba saja aku mendengar sebuah langkah kaki menuju tepat ke dalam ruangan tempatku berada. Baru saja hendak aku berbaring, gadis itu sudah masuk kedalam ruangan yang tak berpintu itu.

“Maaf ya, aku mengganggu” Ucapnya sambil tersenyum.
“Eh, iya, silahkan saja” Balasku agak kaku.
“Terimakasih ya sudah mengamankan bukuku” Ujarnya sambil mengangkat buku yang digenggamnya ke arahku.
“He? Bu bukan aku yang menyimpannya disitu, aku juga baru kok kesini” Balasku.
“Tidak mungkin, rokokmu itu sudah hampir habis, posisi badanmu juga menunjukan kamu baru saja beranjak dari tidurmu itu, itu artinya kamu sudah lama disini, dasar” Ujarnya sambil pergi keluar tersenyum jutek padaku.
“Hah, aku tidak tertidur, dasar sok tahu. Lagipula seharusnya kamu cari tempat lain untuk membaca, tak kusangka ada orang yang datang juga ke tempat seperti ini” Jawabku dingin.
“...” Gadis itu hanya terdiam.
“Ehh, maaf aku tak bermaksud menyinggungmu, abaikan saja apa yang baru saja ku katakan, ya” Ucapku, sedikit tidak sopan, habis gadis itu menyebalkan.
“Yang pindahin bukuku itu hantu lho!” Ucapnya sambil spontan berbalik ke arahku, badannya agak sedikit membungkuk dan ..
“Wleee” Ucapnya sambil menjulurkan lidahnya dan menarik pipinya kesamping.
“Heeee?” Spontan wajahku menahan tawa dan kesal, sambil membuang puntung rokokku ke tong sampah yang berada didekat sana waktu itu.

Dasar, gadis aneh. Apa yang baru saja dia katakan itu? Tidak masuk akal. Hah hantu?! Tidak mungkin.

Aku bergegas pulang karena hari sudah larut malam, sesampainya dirumah aku mengistirahatkan diri. Terlihat handphoneku yang bergetar, menampilkan sebuah pesan yang masuk dari rekanku dalam sebuah organisasi. “Ada hal yang inginn dibahas besok, mengenai materi yang kita ajukan kepada ketua, kami menunggu kehadiranmu dalam rapat kali ini, thx” Apa-apaan ini seenaknya saja membuat jadwal mendadak. Ah, tak apalah, lagipula akhir-akhir ini aku sudah jarang berkumpul.

Keesokan harinya aku usahakan untuk datang ke kampus, setidaknya hadir dalam satu kelas terakhir ini, berhubung aku juga sudah banyak absen dalam mata kuliah ini. Sial, ternyata aku bertemu dengan gadis itu lagi. Aku putuskan untuk segera masuk kedalam kelas saja, padahal masih ada 5 menit untuk menghirup udara segar. Syukurlah kali ini dosennya kerajinan. Seperti biasa, mata kuliah yang membosankan.

Selesai jam kuliah, seperti biasa rutinitasku, kalau tidak ada urusan lain ya pulang kerumah. Kali ini aku berdiam dulu di depan ruang kelasku, dengan menghisap sebatang rokok. Heeee?! Aku sedikit terkejut melihatnya, dia pun begitu, dengan mengangkat satu alis matanya kemudian tersenyum.

“Wah, sudah menjadi kebiasaanmu ya, berdiam dan merokok ditempat sepi seperti ini, apa tidak bahaya” Ujarnya sambil tertawa kecil.
“Enggaklah, suka-suka aku dong” Jawabku cetus, protes aja lagi.
“Hahaha iya iya, aku tinggal ya” Jawabnya sambil berjalan menuju lorong pintu keluar.
“Terserah kau saja” Cetusku.

Tadi itu, dia keluar dari ruang kelas sebelah? Apa sebenarnya yang dilakukannya? Aneh. Aku penasaran dan mencoba memeriksa ruang sebelah, tapi tidak ada apa-apa, tidak ada hal aneh yang mencurigakan. Terkecuali, dasar ceroboh, dia itu pelupa apa sengaja meninggalkan buku itu disitu ya. Ah sudahlah, aku malas berurusan dengan gadis itu. Aku pun melangkah kembali ketempat tadi ku duduk, tapi aku berhenti sejenak, dan kembali keruangan itu, mengambil bukunya. Sampul putih dengan corak abstrak dicovernya, dan judulnya bertuliskan ...

Minggu, 08 April 2012

Dari sahabatku, Indigo II


Dari sahabatku, Indigo
Sekarang ini sudah jarang sekali orang yang suci,
yang ada hanya orang yang bertanggungjawab.

Awalnya, hanya niat kecil untuk merubah seseorang yang dicintai,
sejak saat itu jatuh bangun aku dalam pengorbananku.
Waktu telah banyak terlewati, untuk nihil semata.

Mulai saat itu aku sadar...
Kita tidak akan pernah bisa merubah seseorang, sifat orang yang terbentuk bertahun-tahun, dirubah dengan waktu satu-tiga hari saja tidak akan bisa.
Seseorang dapat berubah oleh dirinya sendiri, sama dengan aku, aku dapat berubah karena usahaku untuk berubah.

Aku terjatuh dan terperangkap dalam keterpurukan...
Semua tampak asing disekelilingku, ya, asing,
Kini aku telah memilih, mungkin ini pilihan terbesar yang ada dalam hidupku.
Menghentikannya mulai detik ini juga, atau meneruskannya untuk dosa-dosa yang menunggu.
Dalam setiap pilihan selalu ada resiko, konsekuensi. Aku mencari yang terbaik tak peduli seberapa besar konsekuensi yang ku dapat. Untuk kebaikan, aku memilihnya, pilihan itu ...

Aku tahu, aku tidak akan menyakiti orang lain jika aku meninggalkannya. Karena bila diteruskan aku justru menyakiti diriku sendiri.
Aku berusaha semampuku, menjalani tanggungjawabku atas apa yang aku lakukan selama ini.
Ya, Tuhan selalu bersama kita, disetiap detik kita mengingatnya.

Aku ingin kamu tahu, sayang ...
Tidak akan pernah ada yang tahu, apa niatmu sebenarnya dalam setiap apa yang kamu lakukan, kecuali Tuhan.

Bahkan selama ini mungkin kita tidak pernah tahu hal buruk yang orang lakukan mempunyai niat baik dibaliknya.

Jadi sayang, lakukan dengan ikhlas dan tinggalkan jika hal itu memang buruk kenyataannya.
Aku ingin kamu belajar dari pengalamanku, sesungguhnya waktu itu sangat berharga.

Selasa, 13 Maret 2012

Wayang Sebagai Warisan Budaya Universal

Negara Indonesia dikenal sebagai negara yang beranekaragam budaya yang khas dan menarik. Dalam perkembangan dunia seni dan budaya di Indonesia, terdapat wayang yang merupakan salah satu bentuk kesenian yang begitu populer. Kesenian Wayang juga memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang bermanfaat untuk membangun karakter dan jatidiri bangsa Indonesia melalui watak tokoh dalam wayang. Wayang juga ternyata kaya dengan unsur - unsur budaya yang universal terbentuk dalam wujud pengetahuan, sosial, dan fisik. Disinilah uniknya, karena nilai-nilai bisa kita pahami dan mengerti baik dari tuntunan agama, memperdalam ilmu pengetahuan, ataupun ketika menikmati sebuah seni.

Wayang yang mengandung tujuh isi universal yakni sistem religi, sosial, pengetahuan, ekonomi, bahasa, seni, dan teknologi. Sistem religi dalam wayang yang dimulai sejak sistem religi animisme-dinamisme, tata alam sakral, Hindu, hingga Islam. Adapun sistem sosial dalam wayang terepresentasikan dalam sistem tata pemerintahan dan sistem tata masyarakat. Dalam hal ini kemampuan dalang dalam memanfaatkan peluang sangat potensial untuk wahana kesadaran masyarakat dalam memaknai demokrasi dan isu-isu terkini.

Wayang pun mengajarkan masyarakat untuk menguasai pengetahuan dan teknologi. Seperti salah satu contohnya cerita Gatot Kaca yang bisa terbang, Antareja yang masuk bumi. Sistem mata pencaharian pun juga terinspirasi oleh tokoh Srikandi, Drupadi, dan tokoh perempuan lainnya. Sementara itu kaitannya dengan unsur bahasa, wayang pun menggunakan bahasa multilingual. Ada bahasa Jawa kuno, Jawa baru, bahkan bahasa asing.

Mengingat wayang yang kaya akan unsur budaya universal, maka wayang mampu mengatasi persoalan global saat ini. Wayang pun dilestarikan juga telah diresmikan UNESCO pada tahun 2003 sebagai warisan dunia.

Kamis, 08 Maret 2012

Cokelat untuk Bulan

#special competition for sweet febuary 27/02/2012    KPM's Event

    Namaku Bulan siswi kelas 2 SMU. Sudah kuputuskan, kali ini aku akan memberanikan diri untuk mengungkapkannya kepada Gerry, dia kekasihku, kakak kelasku, hubunganku dengannya tidak berjalan baik, dia hanya menjadikanku kekasihnya karena menurutnya akulah wanita yang paling cantik di sekolah, tapi dia tidak memiliki perasaan apapun terhadapku, dia hanya mengejar kepopulerannya, maklum dia kapten tim basket di sekolah kami. Akupun juga tidak mencintainya, dia memaksaku untuk menerimanya, selama ini aku menerima cokelat di rak tasku di sekolah, mungkin Gerry berinisiatif untuk memberi perhatian terhadapku dengan cara seperti itu. Aku tidak peduli.

Pagi itu aku terlambat, tak kusangka akan berpapasan dengannya. Farel, seorang anak laki-laki bukan seorang kapten, tapi ia aktif dalam olahraga basket dan futsal sekolah, selain itu dia juga pandai dalam bermain piano dan biola. Tentunya tidak sedikit anak perempuan yang mengidolakannya, dengan sikap dinginnya dan rupanya yang tampan, justru semakin membuat semua anak-anak perempuah di sekolahku sangat mengidolakannya, semua bermimpi menjadi kekasihnya. Termasuk aku. Tapi kami selalu menjadi rival di kelas, kami selalu berdebat, tak mau kalah soal akademik, maupun ekstrakulikuler. Meskipun dia hanya dingin-dingin saja menanggapiku ... atau mungkin aku yang teralu salah tingkah terhadapnya ...

    Aku berlari mengejar pak Edi, satpam sekolah. Tapi terlambat beliau sudah pergi kembali ke pos satpamnya. Aku tersandar lemas, semua ini gara-gara uang sakuku tertinggal dikamar sehingga aku terpaksa harus berjalan kaki, dan akhirnya jadi terlambat seperti ini. Aku yang tersandar di gerbang memejamkan mata sejenak, menikmati lelahku, tak lama aku mendengar suara kesal seorang anak laki-laki “Sial !” Ucapnya. Terkejut akupun segera membuka mata dan menoleh ke kananku ...

“Farel ?!” Ucapku kencang.
“Ssstttt, kau ini bisa diam tidak !” Ujarnya sambil menatap sinis kearahku.
“Eh, iya maafkan aku Farel” Aku hanya tersenyum kecil.
“...”

Farel menarikku yang dari tadi hanya terpana melihatnya, dia menarikku ke pagar belakang. Dia mencoba memanjat pagar, dia berhasil sampai di puncaknya, lalu dia mengulurkan tanganku kepadanya, aku yang terkejut melihatnya seperti itu hanya terpaku saja.

“Hei ! Seperti orang bodoh saja, kamu ini mau masuk kelas tidak sih ?!” Tangannya menarik tangank.

Segera akupun memanjat pagar itu hingga akhirnya kamipun terjatuh, aku terduduk memeluknya. Lututku berdarah, tergores bata-bata yang ada dipinggiran pagar.

“Ada apa ?!” Farel yang sempat terdiam mulai melepaskan pelukanku.
“Huaaaaa ! Lututku berdarah !!” Aku sedikit berteriak.
“Hei, hentikan ! Nanti terdengar yang lain” Ujar Farel yang tersenyum mengejek.
“Huh ? Ehh ?! Apa yang akan kamu lakukan Faareel !”
“Sudah jangan berisik” Ujar Farel.

Dia menggendongku hingga ke ruang UKS. Aku hanya diam terpaku dipangkuannya, melihat wajahnya, aku tak percaya seorang seperti Farel, begitu peduli terhadap orang asing sepertiku. Entah rasanya jantungku berdetak begitu kencang, aku takut kalau Farel merasakan detak jantungku ini. Perasaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Farel menurunkanku duduk di salah satu kursi di ruang UKS. Dia mengambil obat merah dan plaster dari kotak P3K. Begitu lembut caranya memperlakukan pasiennya layaknya dokter.


“Ini akan membuatmu lebih baik” Ujarnya sambil menempelkan plaster di lututku.
“Huh? Hu’um” Aku hanya mengangguk.
“Maafkan aku ya, seharusnya aku tidak mengajakmu untuk memanjat pagar, teralu berbahaya untukmu” Ujar Farel menyesal sambil merapikan kembali kotak P3Knya.
“Eh? Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih padamu, kamu telah menolongku, dan berkat kamu, sekarang aku bisa masuk ...” Tak sempat menyelesaikan perkataanku sudan dipotong oleh Farel.
“Terlambat, bodohnya aku, seharusnya aku membiarkanmu bolos saja” Ujar Farel yang melangkah keluar ruangan.
“Huh? Maksudmu?!” Aku mengerutkan dahi sambil mengikutinya dengan kaki terpincang-pincang.
“Jadi aku tidak perlu susah payah menolongmu, dan aku bisa masuk kelas matematika lebih cepat” Ujarnya tersenyum sambil berjalan menuju ruang kelas matematika.
“APA?! KAMU INI Arggghhhhh, hyaaaa rasakan ini !” Teriakku marah padanya, aku melempar sepatuku padanya.
“(Pletaaakk) Dasar bocah” Ujar Farel menoleh kebelakang dengan tatapan dingin, sepatuku tepat sekali mengenai bahunya.
“Ah? Apa yang barusan ku lakukan?! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku kan harusnya bersikap baik terhadapnya, agar dia bisa menyukaiku. Tapi aku malah melakukan hal bodoh terhadapnya”

Segera aku menyusul Farel yang masuk ke ruang kelas matematika. Terlihat Farel yang sedang dimarahi oleh gurunya, aku bersembunyi mengintip dari celah-celah pintu. Dia menuju keluar ruang kelasnya, aku bersembunyi. Ku lihat wajahnya biasa saja, entah karena Farel orangnya memang datar, aku mengikutinya diam-diam, dia menuju ruang musik, dia membuka pintunya ...

“Jangan mengikutiku” Ujarnya.
“Uh?!” Aku yang terkejut segera menoleh dari balik tembok koridor.

Ah? Begitu merdu, suara yang tercipta lewat sentuhan piano dengan jemarinya. Entah apa yang kurasakan, pesan apa sebenarnya yang ia sampaikan lewat melodi-melodi ini? Rasanya hangat, Farel  ...

***

Beberapa saat kemudian ...

“Lain kali kau harus banyak beristirahat dan jaga pola makanmu” Bisik seseorang, serentak aku membuka mataku dengan terkejut.
“Huh?! Dimana aku?! Apa yang terjadi?!” Aku bangkit dari tempat tidur yang tersedia di UKS.
“Kau tidak apa-apa Bulan? Huff, aku khawatir, kamu tidak masuk jam pelajaran matematika dan tadi aku dengar kamu pingsan dan dibawa ke UKS” Ujar Bella sahabatku, ia memelukku.
“Ehhh? Ehehehe aku tidak apa-apa kok Bell, aku baik-baik saja, mungkin aku hanya kecapean saja, sungguh” Ujarku tersenyum memeluknya.
“Benar ya, kamu baik-baik saja, tadi Farel menggendongmu dan merawatmu sementara disini, kamu tidak sadarkan diri hampir 3jam” Ujar Bella.
“Farel ...” Bisikku dalam hati.

***

Tiga hari kemudian ...

Karena penyakitku kambuh aku harus berbaring dikamarku, dirumah aku hanya bertiga bersama Bibi Ati yang selalu merawatku sejak almarhum mama berpulang dan  hingga saat ini dan juga suaminya Paman Hasim yang membantu merawat taman dan menjaga rumah. Sementara papa, sedang diluar kota sibuk dengan pekerjaannya. Kekasihku Gerry tidak peduli terhadapku, padahal aku telah membuka hati kepadanya, tapi dia tetap tidak berubah, aku hanya pasrah.

Aku bangkit dari kasurku, aku ingin ke taman, rasanya aku bosan, ingin menghirup udara segar di pagi hari. Saat aku duduk di halaman rumah, kulihat ada seseorang yang datang, entah siapa paman Hasim membukakan gerbangnya, ah ternyata hanya sebuah kiriman. Aku hanya duduk diam di bangku taman sambil memperhatikan bunga mawar putih yang dulu selalu almarhum mama rawat.

“Halo” Sapa seseorang dibelakangku, akupun segera menoleh.
“Huh? Farel?” Aku terkejut, mengangkat kerut alis mataku sebelah.
“Maaf, aku tak bermaksud mengejutkanmu. Bella bilang kamu sedang sakit, jadi aku datang kesini untuk menjengukmu. Ini, untukmu” Farel mengulurkan tangannya memberikan sebatang cokelat padaku, lalu duduk disebelahku.
“Uh? Hu’um terimakasih Farel” Aku tersenyum dan mengangguk.
“Apa yang kau rasakan?” Ujarnya melipat kedua tangannya kebelakang, menahan kepalanya yang menanggah ke langit.
“Hmmm, aku senang” Aku menoleh kepadanya. Dalam hatiku, aku senang sekali Farel, aku senang kamu datang, aku tidak lagi merasa kesepian.
“...” Farel hanya tersenyum kepadaku, lucu, kalau dia tersenyum matanya tertutup. Aku belum pernah melihat senyumnya yang seperti itu.
“Farel?” Tanyaku pelan.
“Ya?” Jawabnya.
“Maafkan aku soal kemarin, aku tidak bermaksud begitu” Aku menunduk malu.
“Sepatu? Haha, sudahlah, aku tidak akan mati jika hanya dilempar oleh sepatu aneh kecil seperti itu” Ujarnya tertawa pelan.
“Maksudmu? ..” Aku mengerutkan kedua dahiku, menyebalkan, baru saja kau ku angkat terbang sekarang, kau jatuhkan aku kembali, huh.
“Lupakan. Aku harus pergi. Dah” Dia pergi begitu saja, meninggalkanku.
“Ehehe?!#@$#%@! Dasaaaarrrr!! Menyebalkan! ” Teriakku padanya. Farel, padahal aku ingin kau tetap disini ...

***
Keesokan harinya, keadaanku sudah membaik, aku kembali ke sekolah dan belajar seperti biasanya. Bel pulang sudah berbunyi, aku selalu menghabiskan waktu senggangku untuk memakan cokelat, entah kenapa rasanya sedikit “tenang” sehabis aku makan cokelat.

Aku melihat Farel di lapangan basket ia sedang bermain gitar di bangku-bangku pinggiran. Aku memutuskan untuk menghampirinya, tiba-tiba teman-temanku datang menghampiriku.

“Bulan!” Teriak Bella, Ratna, dan Citra. Mereka adalah teman dekatku.
“Wah, tak kusangka kamu dapat mencuri hatinya” Ujar Ratna menggoda.
“Eh apa maksudnya?” Aku tersenyum heran.
“Sudahlah jangan berpura-pura, aku dengan akhir-akhir ini kamu sedang dekat dengannya ya? Huhhh aku engga ada harapan deh untuk mendapatkannya” Cetus Citra sambil tersenyum jahil.
“Aaahh kalian ini, kami tidak ada hubungan apa-apa, itu hanya gosip belaka” Balasku.
“Hihihi sudahlah, kami semua mendukungmu kawan, aku lebih setuju kamu dengan Farel, dibandingkan dengan Gerry, dia tidak pernah memperdulikanmu” Tambah Bella.
“Iya aku setuju!” Tambah Citra dan Ratna.
“Hahaha kalian ini ada-ada saja” Aku pergi menghampiri Farel.

“Halo” Sapaku sambil tersenyum.
“Hai” Jawabnya sambil tersenyum, tetap memainkan gitarnya.
“Lagu-lagumu indah” Ujarku duduk disebelahnya.
“Terimakasih” Jawabnya.
“Apa kamu baik-baik saja? Ehm, maaf aku sok tahu” Tanyaku padanya.
“Kenapa?” Farel menghentikan petikan gitarnya.
“Ehehehe, tidak, aku hanya bercanda, lupakan saja” Jawabku salah tingkah. Bodoh, kenapa aku bertanya seperti itu, Huff.
“...”
“Lalala ♬ ketika langit melukis kegembiraan dengan pelangi ♪aku bertanya, adakah saat indah yang kulewatkan bersamamu ♬ kehangatan dalam genggaman erat tanganmu ♪bersama mimpiku dan mimpimu ♬♪~ lalalala” Dia bernyanyi, suaranya berdengung ditelingaku, tanpa disadari akupun ikut bernyanyi bersamanya, sungguh, perasaanku begitu tenang, saat bersamanya. Tuhan, apa mungkin ini perasaan yang orang sebut cinta? Cukup lama kami menghabiskan waktu untuk bernyanyi bersama-sama. Hingga kami tersadar hanya tinggal aku dan dia yang berada di sekolah, ya, dengan beberapa guru lagi tepatnya.

Akhirnya senja menjemput kami untuk pulang. Kebetulan rumahku searah dengan rumahnya, jadi kami berjalan berdua. Sepanjang jalan dia hanya diam saja, aku bingung harus bagaimana.

“Farel, kamu tidak apa-apa?” Tanyaku menoleh ke arahnya.
“Tidak apa-apa” Jawabnya.
“Maaf, bukannya aku sok tahu. Entah ini hanya perasaanku atau entah aku memang sok tahu. Kenapa setiap ku dengar kamu bermain musik, melodi-melodi yang kamu mainkan begitu menyentuh, seperti ada pesan dibalik musik-musik yang kamu mainkan itu” Aku berceloteh sendiri.
“Tidak ada yang istimewa, aku memang suka dengan musik yang seperti itu”Ujarnya berjalan meninggalkanku.
“Farel tunggu!” Aku mengejarnya, akhirnya kami berjalan bersama lagi.

Saat kami berjalan, tiba-tiba muncul Gerry yang mengendarai mobilnya berhenti menghalangi jalan kami. Aku mulai merasa tidak enak.

“Apa yang kamu lakukan bersamanya?!” Sentak Gerry sambil menarik tanganku.
“Hentikan!” Cetus Farel.
“Apa?! Apa maksudmu mendekati pacarku?! Kamu itu junior, berani sekali melawan senior ya! Bruukk!!” Satu pukulan Gerry mendarat di mulut Farel.
“Gerry! Hentikan! Kamu ini apa-apaan sih!” Teriakku menghalangi Gerry.
“Diam! Kamu ini milikku, tidak ada yang boleh mendekatimu!” Bentak Gerry.
“Kamu bukan siapa-siapa! Kamu tidak pernah peduli terhadapku! Hanya mementingkan kesenanganmu saja! Memangnya aku ini boneka! Jangan pernah dekati aku lagi!” Aku membentaknya kembali.
“Plaaak!” Gerry menamparku. Seketika aku pingsan, aku tidak tahu apa yang terjadi, aku sudah berada dirumah.

Kepalaku rasanya berat sekali, seluruh tubuhku sakit rasanya. Tapi mataku mencoba terbuka. Aku melihat langit-langit kamarku. Aku sendirian dikamar, aku berharap Farel menemaniku. Gerry, ah sudahlah, aku sangat membencinya. Aku bangkit, aku bercermin, wajahku tampak pucat, badanku bertambah kurus. Aku takut. Aku menelepon ayah, dan beliau akan pulang esok dari luar kota untuk menemaniku disini.

Aku mencoba menghubungi Farel lewat message dan sosial network namun tak ada satupun balasan darinya. Aku tahu dia tipe orang yang apik, paling menggunakan gadgetnya sesuai kebutuhan saja. Aku kembali ke tempat tidur, berbaring dengan selimut biruku. Badanku rasanya sakit, sakit sekali, padahal aku sudah makan cokelat, tapi tetap saja, sakit.

***

Keesokan harinya. Aku menguatkan tubuhku untuk berangkat sekolah. Kali ini aku tidak melihatnya, dia, Farel, dimana dia. Aku bertanya kepada teman-teman, tidak ada yang melihatnya seharian ini. Aku pergi menuju Aula Musik, perasaanku mengatakan ia berada disana. Dugaanku benar, dia sedang bermain piano, dia lantunkan lagi melodi-melodi perih itu, aku menghampirinya ...

“Pergilah” Ucap Farel menghentikan permainan pianonya.
“Maafkan aku” Aku menunduk dihadapannya..
“...” Farel hanya diam.
“Aku tahu, kau pasti sangat membenciku, karena hari kemarin. Maafkan aku Farel, aku ...”
“Kau tidak mendengar apa yang ku katakan?” Dia tetap menunduk.
“Maaf kalau kamu merasa terganggu, itu caraku melupakan rasa sakit yang menggerogoti ini, kalaulah cokelat yang selama ini ku makan berhasil membuatku tetap ceria, kau yang lebih berhasil membuatku lupa dengan apa yang aku rasakan sebenarnya, permisi” Ujarku sambil menangis.
Aku berlari sepanjang koridor, dengan airmata yang menetes deras dipipiku. Aku tak melihat jalan, sampai aku menabrak  Gerry. “Bruuk”
“Aw!” Ujarku terjatuht menahan sakit.
“Dasar bodoh. Perempuan bodoh, suatu saat kau akan menyesal telah mengatakan apa yang kau katakan kemarin kepadaku” Ujar Gerry tertawa tidak menolongku.
Tiba-tiba seseorang membantuku berdiri. Farel...
“Aku tidak akan pernah membiarkannya merasa sakit, dengan kata-kata sekalipun. Apa seperti itu caramu memperlakukan seseorang wanita, kalau kau tidak bisa melindunginya, biar aku yang melindunginya” Farel menggandengku dan membawaku pergi. Gerry yang merasa tersinggung hanya diam melihat kami.
Farel menggendongku ke UKS. Aku yang berhenti menangis, kini memeluknya. Aku merasa nyaman sekali bersamanya. Mungkinkah dia malaikat yang tuhan kirimkan untukku. Farel membaringkanku di kasur yang berada di ruang UKS. Aku duduk menghadap ke arahnya, ia mengambil kursi dan duduk tepat dihadapanku.
“Maafkan aku” Ujarku sambil memeluknya.   
“Sudahlah. Entah kenapa, aku merasa ingin selalu menjaga dan melindungimu. Entah kenapa akupun tidak mengerti. Tapi aku menyukainya. Jangan khawatir, karena sekarang aku akan menjadi cokelat untukmu” Ujar Farel tersenyum sambil mengusap-usap poni rambutku.

***

Saat itu aku tahu ... Selama ini kamulah Farel yang selalu menyelipkan cokelat di rak tasku...
Terimakasih Farel ...
Untuk hari-hari indah bersamamu yang terlewatkan untuk menjagaku, hingga aku bisa pergi dengan tenang sekarang ...
Meskipun kita tidak di dalam dunia yang sama lagi, aku ingin kamu mengetahui satu hal Farel ...
Selama ini aku belum sempat mengatakannya,
Aku mencintaimu ... Farel ....

Selasa, 03 Januari 2012

Keanekaragaman Budaya Memberikan Pengaruh Bagi Masyarakat

Manusia adalah mahluk emosinil dan juga mahluk rasionil. Sebagai mahluk rasionil manusia ingin mengetahu dan memahami seluruh lingkungan alam dan lingkungan sosialnya dengan logikanya, dengan kekuatan berpikirnya sebagai mahluk rasionil manusia senantiasa bertanya yang tidak ada hentinya.

Kebudayaan dapat didefinisikan dalam bermacam-macam. Diantaranya, menurut ahli antropologi yang pertama-tama merumuskan definisi mengenai kebudayaan E. B. Tylor, dalam bukunya “Primitive Culture” yakni bahwa kebudayaan itu adalah keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat-istiadat dan kemampuan lain serta kebiasaan yang di dapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Kenyataan bahwa kebudayaan yang terdapat antara umat manusia sangat beraneka ragam, menimbulkan beberapa dampak positif dan negatif pada perubahan kebudayaan dan kehidupan masyarakat. Dampak positif itu diantaranya keanekaragaman memberikan ruang bagi masyarakat untuk terbuka dalam menjalin hubungan sosial maupun dalam berbudaya. Memberikan ikatan dan hubungan antar sesama. Dapat saling berbagi, bersahabat dan menghargai antar setiap budaya, tanpa adanya batasan-batasan karean sebuah perbedaan.

Disamping itu perubahan budaya ini memiliki pengaruh negatif diantaranya, perubahan berbudaya bahkan modernisasi. Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor penyebab diantaranya, perubahan itu ditimbulkan dari masyarakat itu sendiri, ditimbulkan oleh discovery dan invention. Discovery adalah setiap penambahan pengetahuan atau penemuan mengenai hal baru. Invention adalah penerapan daripada  pengetahuan baru itu. Faktor-faktor perubahan juga datang dari luar masyarakat dengan jalan difusi atau penyebaran budaya atau peminjaman kebudayaan. Seperti halnya modernisasi yang menyingkirkan atau mengesampingkan tradisi-tradisi bahkan budaya lama. Meninggalkan kebudayaan lama sebagai harta warisan setiap suku bangsa, digantikan oleh budaya modern kini adalah salah satu penyebabnya.

Meski daripada itu, pada dasarnya sikap dan nilai-nilai modern ada pada manusia diantaranya, dan penyelesaiannya, seorang manusia memiliki sikap siap untuk menerima hal-hal baru dan terbuka untuk inovasi dan perubahan. Faktor waktu, sikap perencanaan, sikap perhitungan, sikap menghargai, dan dapat menyikapi segala perubahan di sekitar lingkungannya dengan kesederhanaan dan bijaksana. Karena perbedaan itu indah.

Jumat, 02 Desember 2011

Menghadapi Rasa Takut

"Biarkan rasa takut itu, hargai, terimalah, dan hadapi"


Bagaimana menghadapi rasa takut ?
Rasa takut bila dibiarkan berlarut-larut akan berakibat tidak baik bagi kesehatan mental maupun kesehatan fisik. Fobia yang masih awal dapat disembuhkan dengan cara yang umum. Misalnya, pilot yang pernah mengalami kecelakaan udara dianjurkan untuk terbang kembali sesegera mungkin. Yang paling penting dalam hal ini adalah suatu situasi yang membangkitkan kecemasan harus dihadapi kembali segera mungkin, lebih baik lagi kalau dibantu oleh seseorang yang kita percayai.

"Jika kau memiliki beban berat, tendang beban itu, dan manfaatkan momentumnya, itu akan membuat mu lebih kuat" - Butterfly

Adapun cara yang lain rasa takut dan khawatir dalam konteks yang luas adalah bahwa bila kita menghadapi rasa takut, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengakui rasa takut tersebut sebagaimana adanya. Dengan menerima semua hal yang membuat takut dan khawatir itu lalu mengembalikannya semua kepada diri sendiri, insyaallah hal itu semua akan lebih mudah kita terima dan kita lewati.

Takut akan kegagalan, pesimis?

Kuncinya:
-Mendekat KepadaNya
-Mengenali Diri Sendiri
-Pengendalian Diri
-Mengontrol Emosi
-Terbuka

Semua orang pernah mengalami kegagalan. Apa sebabnya kita takut terhadap suatu kegagalan, sehingga kita abaikan kesempatan untuk mengecap kebahagiaan Sebab-sebabnya tentu banyak. Semisalnya, karena rasa rendah diri, atau disebabkan karena pengalaman. Ada istilah “Hold the past, to walk the future” Genggam masalalu, untuk melangkah ke masa depan. Jadikan pengalaman-pengalaman dimasa lalu itu sebagai bekal untuk melangkah ke masa depan. Pikirkan bahwa ini adalah sebuah proses, hal atau masalah seberat apapun itu adalah proses penyempurnaan diri untuk menjadi lebih baik lagi. Pikirkan bahwa akan ada hal lain, akan ada masalah lain yang lebih rumit kedepannya dan kita akan siap menerima dan menghadapi itu semua. Pikirkan untuk melakukan yang terbaik, sebagai rasa syukur kita menjalani hidup ini dengan kebaikan sebagai benih-benih pohon jiwa. Coba untuk membagi dengan orang-orang terdekat, atau orang yang anda percayai, setidaknya hal itu akan meringankan beban itu sendiri. Pikirkan bahwa kita tidak sendiri, kita sealu bersama, dalam harmoni.